Suatu pagi, di sela aktivitas belajar, seorang siswa menghampiriku dan bertanya, “Bu Guru, boleh nggak aku beri tahu satu rahasia ke Bu Guru?”
Sambil menatap matanya, aku balik bertanya, “Rahasia apa, sayang?”
Tapi sambil berlalu Afta berkata, “Ah ngga jadi deh, malu.”
Aku kembali pada aktivitas belajar bersama anak-anak di kelas, tapi di sisi lain aku merasakan “sesuatu”. Aku merasa sebuah tatapan selalu tertuju padaku. Sontak aku menoleh pada satu tatapan kecil… oh Afta. Rupanya sejak tadi ia benar-benar ingin mengatakan sesuatu padaku.
Aku duduk di sampingnya tanpa berkata sepatah kata pun. Tiba-tiba aku merasa tanganku ada yang menggenggam dan dengan sudut mata aku bisa melihat Afta memegang tanganku. Sambil memberi isyarat, aku meminta semua siswa untuk break dan melakukan aktivitas yang sesuai dengan keinginan masing-masing. Seperti biasa, di waktu jeda, anak-anak memanfaatkan waktu untuk bercanda, membuka bekal, bertukar cerita dengan teman, ada juga yang hanya melompat-lompat ataupun sekadar menonton temannya yang sedang mengekspresikan keinginannya.
Kembali perhatianku tertuju pada Afta. Perlahan aku bertanya, “Rahasia apa sih yang ingin kamu bagi ke Bu Guru?”
Afta melihat keadaan sekitar seakan ingin memastikan bahwa tidak ada orang yang memperhatikan dan mendengar pembicaraan kami. “Bu Guru, aku lagi bingung, sedih,” katanya.
“Kok begitu?” tanyaku.
“Tadi malam aku dan ayah diusir Bunda. Kata Bunda, Bunda cuma sayang sama adikku, tidak pada ayah juga aku. Aku juga sering dikatai monyet dan setan.”
Terkejut sejenak saat itu, aku sedikit tak percaya dengan apa yang Afta katakan… karena yang aku tahu, Bunda Afta orangnya lembut, terpelajar, dan aku tak menangkap ada kesan bahwa ia seorang ibu yang bisa memperlakukan anak sekasar itu. Tapi aku juga percaya bahwa Afta bicara jujur. Bila aku ingat, sering kali Afta memperlihatkan kekecewaan terhadap ibunya. Ia sering mengadu “dimarahi/dihukum” kalo ia tak bisa mendapat nilai 100. Seringkali ia kelihatan tidak percaya diri jika akan melakukan sesuatu dengan alasan takut tak mendapat nilai 100/betul semua/bagus atau predikat “sempurna” lainnya.
“Afta sayang, Ibu yakin Bunda sayang banget sama Afta. Bunda lagi khilaf….” Cuma kata-kata itu yang mampu aku ucapkan saat itu untuk menentramkan hatinya.
Kecewa rupanya tidak hanya milik orang dewasa. Dan sudah selayaknya kita sebagai orang dewasa mampu memahami apa yang menjadi sumber kekecewaan bagi anak-anak karena sering kali kita tak mempedulikan itu.
Kejadian ini memberiku hikmah yang besar. Betapa tidak, sebagai seorang ibu, tanpa aku sadari aku mungkin sering membuat anak-anakku kecewa. Tapi Alhamdulillah… Alloh masih melindungiku dari tindakan yang membahayakan anak-anakku, yang mungkin menjadikannya menyimpan kenangan yang “buruk” tentang ibunya.